Ujung-Ujungnya Agama

Saya biasanya menulis karena ada yang membuat saya gelisah atau membuat saya resah. Kali ini adalah saat keresahan saya sudah membulat.

Teman-teman yang aktif di media social terutama twitter atau line pasti sudah sedikit banyak mengerti apa yang akan saya tulis. Agama yang seharusnya memberi rasa aman pada pemeluknya, justru menjadi kebalikannya. Kita lihat kasus Rina Nose salah satu artis yang menjadi sorotan akhir-akhir ini. Masyarakat heboh seakan hal yang beliau lakukan akan mengancam masa depan Indonesia, akan mengancam keamanan diri sendiri. Teman-teman coba buka aplikasi twitter dan di kolom search cari dengan kata kunci “rina nose”. Teman-teman bisa melihat komentar-komentar netizen dengan segala kebenarannya berbicara tentang rina nose, ada yang waras ada yang tidak waras.

ada yang begini

ada yang begini

ada yang begini

ada yang begini juga

coba teman-teman lihat sendiri deh di twitter dan rasakan pengalaman naik turunnya emosi 7 x 24 jam dimanapun dan kapanpun. Teman-teman juga yang tidak aktif twitter sepertinya harus aktif twitter lagi atau malahan perlu mendaftar jika tidak punya akun.

Puncak-puncaknya kejadian seperti ini adalah ketika Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Pemilihannya di Jakarta, yang heboh se-Indonesia. Hitam putihnya masyarakat kita terlihat jelas di media sosial. Bangsa yang katanya ramah, ketika di media sosial dapat berubah menjadi kebalikannya. Tentunya hal ini tidak berlaku untuk seluruh masyarakat ya, hanya oknum-oknum tertentu. Saya masih percaya bahwa budaya timur dan keberagaman di Indonesia masih sangat bisa terjadi.

Saya pun sempat kepikiran, kenapa hal seperti ini tidak terjadi 10 tahun yang lalu atau 5 tahun yang lalu.

Mungkin hal seperti ini ada, tetapi tidak terlalu di blow up oleh media atau masayrakat itu sendiri. Maklum 10 tahun yang lalu sepertinya Teknologi belum berkembang seperti saat ini atau memang karena saya yang kurang update 10 tahun yang lalu? hahaha.

Sekarang informasi bukan lagi menjadi hal yang luxury bagi masyarakat. Hierarki kebutuhan maslow pun sepertinya perlu diubah kalau seperti ini.

sumber : google images 

Informasi menjadi kebutuhan primer setiap manusia, karena demand kebutuhan informasi ini banyak maka supply juga otomatis bertambah banyak. Hal ini membuat makin banyaklah akun-akun media sosial yang dijadikan lahan bisnis. Susahnya di media sosial itu semua orang dapat membuat akun, dan semua orang dapat menyebarkan informasi tanpa ada filter. Orang-orang kebanyakan sudah mengetahui mana akun yang memang menyebarkan berita hoax tapi apabila ada satu orang saja yang percaya maka sudah dapat dipastikan dia juga akan menyebarkan informasi tersebut. Kalau di twitter biasanya hanya dengan satu kali klik retweet. informasi sudah dapat dilihat oleh followers kita.

Kita ibaratkan dunia nyata seperti twitter, pentingnya orang yang kita follow berpengaruh besar terhadap perilaku dan pemikiran kita. Saya tidak berkata bahwa orang yang saya follow adalah orang yang paling benar, karena kita cenderung mem-follow hal-hal yang membuat kita senang atau bahagia atau sepemikiran terlepas dari benar atau salahnya hal tersebut. Mana ada orang yang mau mengikuti hal-hal yang dia tidak sukai, ya kan? atau ada?

Orang yang pertama kali saya ikuti dan menginspirasi saya secara besar adalah seorang kakak tingkat saya yang menjadi Koordinator Sekbid 9 OSIS SMAN 2 Bondowoso pada saat itu, yaitu Kak Aditya P. Tidak tahu kenapa saya setuju dengan pemikirannya, saya suka desain-desainnya, prestasi punya. Saya yang saat itu baru belajar mendesain sering jelek dalam mendesain (sekarang pun iya) tetapi beliau tidak pernah mengkomentari hal tersebut, beliau tetap meminta saya yang membuat desain-desainnya meskipun nantinya akan direvisi atau dirombak ulang. Jadinya saya pun mengikuti beliau dan menjadikan beliau salah satu contoh bagi saya pribadi. Hal yang saya ingat beliau pernah mengatakan “untuk desain itu selera masing-masing”. Beliau tidak mengatakan bahwa desain saya jelek atau kurang enak dipandang mata, hal ini membuat semangat saya untuk belajar desain menjadi lebih besar.

Jadi, orang yang kita follow atau ikuti dapat berpengaruh besar terhadap pemikiran diri kita sendiri. Cari orang-orang yang dapat membuat kalian bahagia. Jangan cari orang yang membuat kalian nesu-nesu tiap hari.

Kembali ke topik awal. Saya sering melihat di media sosial dalam setiap perdebatan terkadang, hampir lumayan sering dikaitkan dengan agama. “Agama kamu apa?” “Oh pantes ga ngerti ajaran kami” “ajaran kami itu seperti ini itu”. Kalau di debat biasanya kita dilarang untuk menyerang pribadi seseorang, orang yang menyerang pribadi orang yang lain saat debat biasanya karena sudah tidak ada argumen lagi yang mau disampaikan.

Saya cuma tidak ingin kepercayaan orang terhadap agama kita masing-masing menjadi menurun. Agama dijadikan selimut untuk berbeda pendapat. Agama dijadikan media untuk meremehkan orang lain. atau bahkan

Agama dijadikan alasan merebut kekuasaan.

Ini dulu yang mau saya sampaikan mewakili keresahan saya. Saya masih berumur 20 tahun, mungkin teman-teman ada yang menganggap opini saya tidak relevan, mangga itu hak teman-teman. Oh iya dibawah ini saya cantumkan alasan kenapa saya menulis post ini dengan judul Ujung-Ujungnya Agama. Disimak baik-baik, entah benar atau tidak  sepertinya dapat menjadi evaluasi bagi diri kita semua.

Mungkin terlihat sedikit provokatif. Tapi dilihat saja positifnya dari tweet masnya, bahwa mungkin ada beberapa oknum terkadang manusia perlu agama sebagai penenangnya, sebagai pedomannya. Jadi kalau politik mulai mayoritas dicampurkan dengan agama, teman-teman kita yang butuh penenang-Nya yang butuh pedoman-Nya, harus cari kemana lagi?

 

Iklan

dear papa sn

baju yang dipakai

“tiin tiin tiin”

Bocah itu sedang berada di perempatan Jalan Merdeka Kota Bandung mengendarai sepeda motor Vario hitam kesayangannya. Detik demi detik mulai berkurang dari cahaya LED lampu lalu lintas di depannya yang menandakan tidak lama lagi dirinya dapat melaju kembali memecah malam di Kota Bandung.

“40…39…38…” ucapnya dalam hati.

Dari kejauhan terlihat sosok bertubuh kecil yang lihai melenggokan badannya di sela-sela kendaraan yang menunggu lampu merah. Bocah itu pun terdiam ketika dirinya melihat anak berusia sekitar 7-10 tahun yang berpindah-pindah dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya menawarkan tisue. Terlihat beberapa orang mengambil uang di saku jaket dan celana mereka untuk membeli tisue yang ditawarkan anak kecil itu.

Anak kecil itu berjalan semakin mendekat ke si bocah. Pantulan cahaya lampu ditambah cerahnya bulan membuat bocah ini memperhatikan sesuatu. Mata anak itu sayu.

“dia punya mata yang sama dengan adikku yang ada di Bondowoso” gumamnya dalam hati.

Sesaat setelah mengucapkan hal itu dalam hati, waktu seketika berhenti. Daun yang jatuh dari pohonnya terlihat diam dengan nyaman di udara. Lampu lalu lintas pun berhenti di angka 9. Orang-oeang disekelilingnya pun berhenti bergerak seperti patung display yang biasanya ada di pusat perbelanjaan.

“ada apa ini? Ahh kalian lagi” anak itu menengok ke samping kanan dan kirinya.

Yap benar, mereka adalah Saint dan Sinner. Teman si bocah yang selalu membantu ketika si bocah diharuskan membuat pilihan.

“kenapa lagi kau bocah? Bingung apalagi kamu?” tanya Sinner.

“ini aku bingung, aku kasihan ke anak ini. Aku mau membeli tisuenya”

“lalu kenapa kamu bingung bocah? Perbuatan baik akan dibalas kebaikan juga suatu saat nanti” Saint menimpali.

Bocah itu terdiam sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Katanya profesiku, pekerja sosial kita tidak boleh memberikan uang secara langsung. Katanya profesiku harus memberikan pancingnya, bukan memberikan ikannya.” Kata bocah itu tegas.

“lalu kalau begitu, kamu mau memberikan apa?” Saint bertanya kepada si bocah.

“Kalau idealnya sih, harusnya diberikan kepada lembaga-lembaga yang memang konsen dengan masalah anak jalanan ini.”

“misalnya kita ikut cara ideal menurut kamu. Kamu apa yakin bocah materi yang kamu berikan bisa sampai kepada mereka? Kamu yakin bisa tepat sasaran? Kamu yakin mereka akan membantu anak ini yang mungkin merupakan 1 dari beribu-ribu anak jalanan yang ada di Bandung?” ujar Sinner.

“tapi kan seandainya kita berikan langsung ke mereka, hal ini malah membuat bertambah banyaknya anak jalanan nantinya. Orang-orang akan mencontoh karena dengan cara seperti ini bisa dengan mudah mendapatkan uang.” Bocah itu menjawab.

“iya itu juga benar.” Sahut Sinner dan Saint.

“lalu, kalau kamu begitu ngotot dengan profesi kamu, kenapa kamu masih bingung?” tanya Saint.

“karena aku masih manusia. Karena aku punya nurani. Karena aku teringat akan adikku di Bondowoso. Aku engga bisa membayangkan seandainya apa yang dilakukan anak itu apabila terjadi pada adikku.” Jawab bocah itu lirih.

“yang tau jawabannya adalah kamu sendiri bocah. Kamu akan memakai “baju” apa.” Kata Saint.

“baju?” bocah itu pun terlihat tambah bingung.

“iya baju. Setiap hari manusia memakai baju yang berbeda di setiap keadaan. Seorang hakim ketika di ruang sidang dia akan memakai baju sidangnya dan berperilaku seperti hakim yang tegas dan terkesan galak. Tapi ketika dia ada di rumah dengan keluarganya. Si hakim tidak akan memakai baju hakim, dia akan lebih memilih memakai baju ayah. Ayah yang penyayang dan mungkin berbeda 180 derajat dari baju hakim yang dipakainya saat pagi.” Saint menjawab sembari memegang bahu si bocah.

“pilihannya di aku ya?”

“tentu saja” Saint dan Sinner bersahut bersamaan.

“oke kalau begitu, kali ini aku akan pakai baju seorang kakak yang rindu dengan adiknya.”

Waktu pun kembali berjalan kala si bocah melakukan sesuatu yang sesuai dengan baju yang sedang dipakainya.

 

 

 

 

Toleransi? Sudah Bosan Pak/Bu

Tulisan ini pernah diunggah di salah satu blog saya yaitu, bimo.blog. Saya pindahkan kesini dalam rangka mengintegrasikan semua tulisan saya ke satu blog agar lebih mudah diurus.

Kamis, 19 Januari 2017

01:20-02:52

Sofa Merah Dago Pojok

TOLERANSI!

sudah bosanku dengar kata toleransi

dipaksa pahami sejak kita masih bayi

diajak ku untuk hargai orang lain

“nak, hargai orang lain maka kau kan dibanggakan”

lucu rasanya saat ku liat negeri ini

disana sini teriak ini negara kami

seperti lupa ajaran dari pendahulu

Pancasila itu ada sebagai penyatu

(RBkartikoaji)

Akhir-akhir ini Indonesia sedang dibuat ramai oleh kasus-kasus yang awalnya bersumber dari toleransi. Masing-masing pihak sedang berlomba-lomba untuk melaporkan pihak lain. Apa yang sebenarnya mereka cari? Pengakuan? Materi? Menurut saya pribadi hal-hal seperti ini malah menjadikan beberapa permasalahan yang jauh lebih penting untuk dicari solusinya malah tenggelam, menjadi bahaya laten. Permasalahan seperti pengentasan kemiskinan dan juga rendahnya tingkat pendidikan terlihat seperti bukan tujuan utama dari negara ini. Untuk saat ini permasalahannya yang terlihat adalah, (1) bagaimana cara melaporkan pihak lain dan menang, (2) dan bagaimana cara menang pilkada dengan berbagai cara. Sudah banyak pihak baik individu ataupun organisasi atau komunitas yang mengeluarkan opini dan pendapatnya. Saat ini maka izinkan saya untuk melemparkan opini dan pendapat saya lewat media blog ini.

Pendahuluan

Sejak kita masih kecil sudah pasti orangtua kita masing-masing mengajarkan kita tentang toleransi, yang memang sangat melekat dalam nilai hidup masyarakat dunia bagian timur. Apabila anda merasa tidak diajarkan tentang toleransi saat masih kecil, mungkin saja orangtua anda menggunakan redaksi kata-kata lain. Seperti, “nak, hargai orang lain ya”, “nak, berteman dengan semua orang” “nak, ramah ke semua orang ya”. Nah hal-hal kecil seperti itu yang selalu melekat pada diri saya, pada diri kalian semua tentunya.

Toleransi sendiri memiliki arti membiarkan orang lain berpendapat, melakukan hal yang tidak sependapat dengan kita, tanpa kita ganggu ataupun intimidasi. Konsep toleransi ini sering dikatkan dengan agama, budaya, ras, dan berbagai hal lainnya yang ditunjukan untuk tidak adanya diskriminasi dari satu pihak kepada pihak yang lain. Sederhananya, dengan toleransi diharapkan seluruh komponen masyarakat bisa hidup bersama-sama dengan rukun.

Untuk lebih mudahnya saya contohkan dengan keadaan di kampus tempat saya menimba ilmu, Sekolah Tingi Kesejahteraan Sosial Bandung, Atau lebih mudahnya kita sebut saja STKS Bandung. Di kampus ini bisa dibilang mahasiswanya memiliki warna masing-masing. Baik warna daerah, warna organisasi, ataupun warna ideologi. Dari Sabang sampai Merauke memiliki keterwakilan di STKS Bandung. Masing-masing warna dari daerah masing-masing lalu dihimpun dalam berbagai hima-hima yang ada di STKS Bandung. Dari Jowo Community untuk mahasiswa yang berasal dari daerah berbahasa jawa. Ada juga Pawayangan yang merupakan himpunan bagi mahasiswa dari tanah sunda, dan berbagai hima lainnya. Seandainya dari kecil kami tidak diajari tentang toleransi tidak mungkin kondisi di STKS Bandung tetap kondusif. Apabila tidak diajari toleransi setiap individu, organisasi, komunitas berupaya untuk menunjukkan warna-warnanya masing-masing tanpa membiarkan warna-warna yang lain ada. Bukankah pelangi itu indah karena berbeda-beda warnanya?

Intoleransi

Magnet memiliki dua buah kutub, yaitu kutub positif dan kutub negatif. Begitu juga dengan toleransi, dengan membahas toleransi kita tidak bisa bila tidak membahas intoleransi. Intoleransi sendiri sederahanya kita tidak bisa menghargai orang lain, kita tidak bisa menerima warna-warna yang lain, kita mau warna kita paling terlihat terang, mau warna kita yang menjadi perhatian, dengan intoleransi kita mau warna pelangi hanya menjadi warna putih.

Dalam cangkupan dunia, intoleransi yang paling terlihat sekarang mungkin adalah tumbuh pesatnya islamophobia karena berbagai kasus yang melibatkan oknum dari umat islam di dunia. Di Amerika Serikat yang bisa terlihat adalah bagaimana konsep “white” man dan “black” man yang sangat terlihat sehingga melahirkan gerakan BLM atau “Black Lives Matter”. Di Indonesia sendiri kasus intoleransi sering dikatikan dengan agama maupun budaya. Saya bukan seorang ahli dalam hal agama islam, meskipun saya sendiri sebagai seorang islam. Dari yang saya lihat saat ini intoleransi di Indonesia sampai dalam level meng-kafirkan sesama umat islam.

Banyak hal yang menyebabkan kenapa kasus-kasus intoleransi di Indonesia ini bisa menyebar dengan cepat dan luas. Menurut saya sendiri, hal ini dikarenakan untuk membenci kepada seseorang kita hanya membutuhkan satu hal dan bisa dalam waktu singkat, tapi untuk bisa suka kepada seseorang kita memerlukan banyak hal dan membutuhkan waktu yang lama juga. Sifat seperti inilah yang membuat gampang sekali untuk bisa menggerakan suatu komponen di masyarakat untuk menjadi komponen yang lain.

Media masa juga memiliki peranan dalam membantu menyebarkan informasi-informasi yang bisa menyebabkan intoleransi di Indonesia. Mudahnya masyarakat terprovokasi dengan judul-judul yang bombastis dan terkesan “click bait” yang sengaja diciptkan oleh media-media pun semakin menambah kemampuan informasi dari media masa untuk mempengaruhi masyarakat. Apabila kawan-kawan tidak tahu apa itu judul-judul clickbait bisa dilihat di gambar di bawah ini.

wp-1484810606632.jpg
contoh clickbait

Dengan judul-judul seperti itu dan dengan sifat masyarakat yang kebanyakan malas membaca bisa dengan cepat menyebarkan informasi-informasi yang belum tau kebenarannya ke orang lain.

Agama dan Budaya sering dijadikan alasan untuk intoleransi. Dua hal tersebut juga terkadang dimanfaatkan saat ada pilkada seperti yang sedang dilaksanakan untuk pemilihan Gubernur Jakarta. Ada satu hal yang sangat lucu yang saya temui saat sedang melihat tweet-tweet yang berlalu lintas di dunia maya. Saya sempat melihat tweet bahwa apabila kita tidak memilik paslon nomor dua maka kita bukan negara yang menghargai kesatuan :)) Saya memang tidak memiliki hak pilih untuk Gubernur Jakarta, tapi hal ini bisa jadi himbauan untuk pendukungan dari paslon tersebut bahwa tweet-tweet seperti itu yang bisa mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap paslon anda.

Solusi?

hmm untuk sampai saat ini saya juga masih belum bisa menemukan solusinya. Karena konflik dalam masyarakat akan selalu terjadi, nah tergantung dari pemegang kekuasaan untuk bisa mengarahkan konflik tadi menjadi suatu yang bisa bermanfaat dari semua.

Meskipun masih belum menemukan solusinya penyelesaian masih konkret menurut saya tetap dengan peningkatan pendidikan. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan, masyarakat bisa menjadi lebih paham dalam menyikapi suatu permasalah, masyarakat bisa menjadi lebih bijak dalam menerima informasi dari orang lain, dan masyarakat menjadi tidak mudah diarahkan oleh mereka-mereka yang memiliki kepentingan pribadi.

Untuk saat ini mungkin saya dan kalian semua masih belum bisa menemukan solusi dari pemasalahan ini, tapi mungkin tahun depan, 5 tahun lagi, atau 10 tahun lagi. Kita bisa menemukan solusi dari pemasalahan ini, dan kita semua di Indonesia bisa guyup rukun dengan menjungjung tinggi nilai-nilai budaya timur.

bekerja, dipekerjakan, berkarya?

Tulisan ini pernah diunggah di salah satu blog saya yaitu, bimo.blog. Saya pindahkan kesini dalam rangka mengintegrasikan semua tulisan saya ke satu blog agar lebih mudah diurus.

bekerja, dipekerjakan, berkarya?

hal ini sepertinya akan terus berputar di pikiran saya beberapa tahun kedepan. Pada rentang usia saya sekarang biasanya sudah harus memikirkan tentang rencana masa depan. Mau tidak mau harus mau. Bisa tidak bisa harus bisa. Masa depan akan datang. Sepertinya baru kemarin saya lulus dari SMAN 2 Bondowoso, baru kemarin saya kebingungan mencari tujuan kuliah, baru kemarin saya diterima di STKS Bandung.

Waktu demi waktu sudah dilalui. SKS yang harus dikejar tiap semesternya pun sudah dilunasi. Praktikum I sudah dijalani, tapi seperti masih ada yang belum “pas” masih ada yang belum “sreg”, masih ada yang belum saya berikan untuk diri saya sendiri.

Saya pikir-pikir lagi dan saya renungkan lagi apa yang membuat ketidak “sreg”-an dalam diri saya sendiri. Baru setelah beberapa saat saya tau, saya tau apa yang akan membuat saya puas. Jawabannya adalah:

MENULIS

i have a dream, suatu saat saya bisa menghidupi diri saya dan keluarga dari menulis. Saya mau membuat karya. Saya mau hidup dari karya-karya saya. Saya mau ada yang saya tinggalkan suatu saat nanti, dan itu bukan hanya nama. Entah itu dalam bentuk buku, entah itu dalam bentuk film, entah itu dalam bentuk yang lain. Kalau saya sudah berbicara seperti ini biasanya orang-orang akan menanggapi

Kejar mimpimu, bisa kok bisa”

atau

Wah keren, ayo kejar terus hiduplah dari karyamu bim”

atau, yang menurut saya paling realistis

“kamu loh dari jurusan pekerjaan sosial, yang lain itu cita-citanya jadi PNS, kamu kok jadi penulis, mau jadi apa”

Perkataan dari seorang sahabat diatas tentu sempat membuat saya down. Ya saya Radityo Bimo Kartiko Aji anak dari kedua orangtua saya. Ayah saya seorang PNS, Kakak laki-laki saya juga PNS. Seperti memang sudah dibuat untuk menjadi PNS. Dalam keluarga saya, saya satu-satunya yang tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi PNS. ._. Saya bukan tidak mau jadi PNS. Saya hanya tidak “sreg” menjadi PNS. Saya tidak mau bekerja dan dipekerjakan sebagai PNS. Silahkan anda katakan saya munafik dan sebagainya tetapi saya memang belum ada keinginan bekerja sebagai PNS.

lalu ada orang yang bertanya

“kalau engga jadi PNS, terus kamu mau kemana? mau makan dari apa?”

hmm untuk sekarang saya belum tahu harus menjawab apa. Semakin pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan, makin tidak yakin saya dengan apa tujuan saya. hahahahaha

Banyak kutipan-kutipan yang bersliweran di dunia maya yang intinya memiliki kalimat yang sama.

  • ikuti mimpimu
  • jangan menyerah kalau mimpimu belum tercapai
  • jatuh sekarang untuk nanti bangkit

Mungkin kutipan-kutipan itu cocok untuk beberapa orang, mereka merasa kutipan-kutipan itu “gue banget”, tapi yang saya rasakan justru berbeda. Semakin tua semakin kita tau bahwa tidak semua mimpi bisa saya raih. Saya tau bahwa dalam hidup saya pasti harus membuat pilihan-pilihan. Semakin tua semakin saya harus menurunkan idealisme saya, semakin saya harus sadar bahwa dunia saya bukan di dalam kutipan tersebut. Dunia saya ya, dunia yang sekarang ini saya berada.

Saya yakin setiap orang berjuang untuk dirinya masing-masing, setiap orang dulunya pasti punya mimpi, tapi mimpi-mimpi itu terus digebuk, terus dijatuhkan, terus dipaksa untuk beradaptasi dengan dunia nyata karena memang dunia nyata tidak segampang kutipan. Di kutipan-kutipan bijak mereka selalu mengatakan “jatuh pada saat kalian masih muda, jadi pada saat tua sudah menikmati”. Ini tidak untuk semua kalangan, kemampuan manusia berbeda-beda. Ada yang jatuh sekali namun tidak mampu bangkit kembali, karena memang seperti itulah dunia. Dunia tidak akan memberi kasihan pada kamu, dunia tidak akan ada disamping kamu saat kamu terjatuh.

Kamu sendiri yang akan ada bersama kejatuhan kamu, keluarga bisa pergi, suami/istri bisa pergi, anak bisa pergi, sahabat bisa pergi, teman dekat bisa pergi, semua bisa pergi. Tapi tidak dengan kamu dan kejatuhan kamu. Dunia akan terus mengikuti kamu dan kejatuhan kamu. Keras? tidak menurut saya. Karena memang ini dunia nyata, bukan dunia sebatas di dalam kutipan orang-orang bijak.

Akan selalu ada orang yang berhasil meraih mimpinya

Akan selalu ada orang yang akan gagal meraih mimpinya

Itulah dunia, tidak akan memberi kemudahan bagi siapapun.

Saya jadi berfikir lagi, apa bisa saya hidup dari karya? sedangkan saya belum membuat karya sama sekali. Apa saya harus jadi PNS sesuai perkataan orangtua saya? Apa mimpi saya harus diubah? harus diganti? harus di sesuaikan dengan dunia nyata? Saya belum yakin. Saya tidak yakin.

Yang bisa saya yakini adalah, saya senang menulis, saya ingin hidup dari tulisan-tulisan saya. Tulisan saya tidak bagus, tidak ada yang memuji, banyak yang mencela hahahaha. Tapi saya tetap ingin menulis. Saya butuh kepercayaan, saya butuh keyakinan. Bukan dari orang lain, tetapi dari diri saya sendiri. Saya jadi teringat omongan saya kepada putra beberapa semester lalu

“Put, mengko aku dadi Ketua LC, bakalan tak ubah kabeh sisteme”

dan akhirnya saya pun terpilih menjadi Ketua UKM Bahasa bulan Agustus 2016. Tanpa ambisi, tanpa persiapan. Sepertinya Allah SWT mendengar dan membuat rencana atas perkataan saya pada semester itu. Melihat polanya saya sekarang juga akan berkata

“Saya akan jadi penulis, saya akan hidup dengan karya saya, saya akan tetap membantu orang dengan menerapkan ilmu pekerjaan sosial saya.”

Semoga kali ini Allah SWT juga mendegar, kamu mau bantu mendoakan saya kah? hehehe.

Terima kasih atas doanya ya, semoga kembali ke kamu.

Nah, rekan-rekan. Jadi diantara Bekerja, Dipekerjakan, atau Berkarya? kamu percaya kepada yang mana untuk diri kamu?

Untuk saya sendiri, jawabannya baru bisa saya beri pada nanti waktunya. Untuk sekarang saya masih percaya, bahwa saya bisa hidup dari karya.

UKM Bahasa – Akhir

Tulisan ini pernah diunggah di salah satu blog saya yaitu, bimo.blog. Saya pindahkan kesini dalam rangka mengintegrasikan semua tulisan saya ke satu blog agar lebih mudah diurus.

img-20160828-wa0002

UKM Bahasa

tempat semua dirasa

tempat semua merasa

tempat mimpi dirangkai

tempat mimpi dicapai

 

UKM Bahasa

Bulan agustus jadi pondasi kami

Menyiapkan, Menjalankan harapan kami

Banyak perubahan yang dialami

Melalui ruang mimpi berdimensi

 

UKM Bahasa

Lebih dari sekedar keluarga

Disini mimpi kami dimulai

Disini cinta kami temui

Disini sedih kami hadapi

Disini, saya pribadi

Bisa merasakan kehangatan keluarga sendiri

 

UKM Bahasa

20 orang disatukan di 1 ruangan

Ketua yang keras memimpin bagai diktator

Sekretaris yang selalu menyadarkan

Bendahara yang selalu ditunggu kabar

Pengurus yang selalu datang menunggu arahan

 

Saya tidak tahu kedepannya bagaimana

Saya tidak tahu masa depan berencana apa

Yang pasti saya tahu. kalian masih dan akan tetap jadi keluarga saya

 

Dibuat pada malam saya turun dari jabatan Ketua UKM Bahasa STKS Bandung tahun 2016-2017.

Harapan

Tulisan ini pernah diunggah di salah satu blog saya yaitu, bimo.blog. Saya pindahkan kesini dalam rangka mengintegrasikan semua tulisan saya ke satu blog agar lebih mudah diurus.

jangan maju karena terpaksa. Maju karena kamu bangga. Ambisius boleh,  maruk jangan.

jangan sampai merusak angan-angan. Banyak yang bisa memberi otoritas, tapi jarang yang bisa seperti bus patas.

Cepat,  terbatas,  memimpin dengan ikhlas. Bergerak,  merangkul, menghilangkan semua batas.

Masa depan kampus ini di tangan kalian kami bantu dan doakan sepanjang jalan

Define Happiness

Tulisan ini pernah diunggah di salah satu blog saya yaitu, bimo.blog. Saya pindahkan kesini dalam rangka mengintegrasikan semua tulisan saya ke satu blog agar lebih mudah diurus. Masuk ke dalam kategori 3S yaitu The Saint, The Sinner and a Student

Define Happiness

Bocah itu kembali berada di tempat tersebut. Sebuah tempat yang rutin ia datangi ketika pulang ke kampung halamannya. Tempat yang sepi dari manusia tapi ramai dengan kenangan yang sudah mati. Tempat paling berat untuk didatangi pertama kali meskipun akhirnya akan biasa saja, tapi tidak dengan bocah ini. Bocah ini selalu berat untuk melangkah kesini, bocah ini selalu tenang bila berada disini.

“Disini lagi bos? engga cape bicara dengan mereka yang engga bisa balas apa-apa?” Sinner tiba-tiba muncul menganggetkan bocah itu.

“BERISIK !, aku cuma butuh didengarkan bukan dikomentarin” Nada bicara bocah itu tiba-tiba meninggi.

“Sinner kamu bisanya cuma bikin orang marah aja. Sedang ada masalah ya bocah?” Saint datang dan mencoba menenangkan suasana.

“hai Saint. Tidak ko lagi ingin menenangkan hati aja. Lagi mau curhat ke orang yang engga akan menjudge aku”

“oh iya iya, bocah kita duduk di kursi itu yuk. Kita mengobrol sebentar. Sinner kamu ikut juga” Seraya tangan Saint menarik tangan bocah itu.

Kursi tersebut terlihat sudah tua dengan beberapa bagian yang retak. Rusaknya kursi itu menandakan dua hal. Umur kursi yang sudah lama, atau seringnya orang duduk disana untuk sekedar menenangkan hatinya setelah berada di tempat itu. Bocah itu duduk di tengah kursi yang lebih baik kondisinya. Saint dan Sinner hanya berdiri melihat bocah itu yang tiba-tiba menangis. Sinner pun duduk disebelah bocah itu dan memeluknya. Tangisan bocah itu semakin menjadi ketika dipeluk oleh Sinner.

“Aku engga suka sepi, tapi sepi disini menenangkan aku”

Bocah itu mencoba berbicara meskipun lebih terdengar seperti sedang menyanyi seriosa dengan suara yang buruk. Beruntung tidak ada siapa-siapa pada waktu itu di tempat itu. Hanya ada Bocah itu, Saint, Sinner dan juga kenangan-kenangan yang sudah coba ditinggalkan, kenapa mencoba? karena kenangan di tempat itu memang tidak akan pernah hilang. Adanya kenangan itu tertimbun dengan pikiran lainnya yang pada saatnya akan muncul kembali di permukaan.

Saat Bocah itu mulai agak tenang Saint dan Sinner mengajaknya untuk pindah ketempat lain karena tempat itu memang bukan tempat yang cocok untuk berbincang-bincang.

“Bocah, kita pindah ke rumah lama kamu aja yuk, kita ngobrol disana seperti biasanya. like the good old times.” Saint membuka pembicaraan ketika Bocah itu mulai tenang kembali.

“huh? iya Saint sebentar ya aku mau pamit dulu”

Bocah itu kembali ke sebuah tempat dia tadi berada. Disitu tertulis Ifo, Fajar, dan Ridwan.

“Mas Ifo, Mas Fajar, Dek Ridwan. Aku pulang dulu ya, lain kali kita cerita-cerita lagi. Minta doanya ya mas untuk keluarga kedepannya, lagi banyak ditimpa cobaan. Nanti kalau aku ada libur lagi. Aku akan kesini lagi ya”

Sunyi. Meskipun sunyi yang ada. Bocah itu merasa kakak-kakak dan adiknya menjawab pesan pamitnya. Nama Ifo, Fajar, dan Ridwan yang sudah ditidurkan dengan tenang di Pemakaman Kironggo Kabupaten Bondowoso.

Bocah itu kemudian pergi ke arah Utara. Menyusuri jalan di sebelah puskesmas lalu masuk di gang nomor 5 di jalan itu. Satu rumah, dua rumah terlampai. Tepat di depan rumah ke 11 Bocah itu berhenti. Motor diparkirnya di depan rumah  yang rumputnya sudah meninggi hampir setengah tinggi badan manusia dewasa. Duduklah bocah itu memandangi rumah itu dari depan. Air matanya kembali menetes menandakan ada yang diingatnya dari rumah itu.

“Hei bos kangen masa kecil? kangen disuapin lagi? hahahahha” Sinner dan Saint datang disamping bocah itu.

“hahahaha tidak lah bukan disuapinnya yang aku ingat, tapi nyamannya menjadi anak kecil”

“Nyaman gimana bos? Jadi anak kecil kan tidak enak. Banyak aturan yang harus dipatuhi, tidur ga boleh malam-malam. ”

“Ya nyaman aja. Waktu kita masih kecil kita berani menatap dunia, kita tidak takut kepada dunia kita malah ingin cepat dewasa karena itu. Tapi saat umur kita bertambah, ketakutan dan kekhawatiran kita juga bertambah. Lebih banyak yang harus kita pikirkan.”

Bocah itu mengatakannya dengan pandangan kosong sambil tetap memandang rumah itu.

“Itu saja bos? kirain ada lagi.”

“Ada lagi. Kalian tahu ga hebatnya anak kecil? Mereka cepat sembuh.”

“Maksudnya cepat sembuh Bocah?” Saint pun juga penasaran dengan pernyataan dari Bocah tersebut.

“Iya saat masih kecil meskipun kita lebih gampang menangis ketika sakit sedikit tapi setelah menangis itu kita akan melanjutkan hidup kita, kita akan lupa tentang sakit yang membuat kita menangis itu tadi. Tidak begitu halnya dengan yang sudah dewasa. Meskipun jarang sakit, tetapi ketika sudah menangis kita sulit menyembuhkannya. Bahkan ada yang berpuluh-puluh tahun tetap tidak sembuh meskipun sudah menemui ahi-ahli seperti psikolog, psikiater, ataupun pekerja sosial. Kita orang dewasa ternyata tidak lebih kuat dari anak kecil.”

Bocah itu berbicara sambil tetap memandang rumah itu. Rumput-rumput dirumah itu melambai-lambai seakan menunjukan gestur setuju dengan pendapat bocah itu.

“Bocah kau sedang tidak bahagia ya?” Saint bertanya kepada Bocah yang sudah terlihat melamun kembali.

“Aku? Aku bahagia Saint. Sangat-Sangat Bahagia. Aku punya keluarga yang berkecukupan, aku bisa bersekolah di universitas yang aku inginkan, aku mempunyai orang yang sayang padaku, aku punya tujuan pulang, aku dilancarkan semua urusannya selama ini. Aku sangat-sangat bahagia. Tapi ada satu hal yang mengganjal Saint….” Bocah itu menelan ludahnya.

“Apa itu Bocah?” Sinner menanyakannya.

“Aku kurang bersyukur, sudah banyak hal yang Tuhan berikan kepada aku, tetapi aku kurang bersyukur. Aku beruntung masih bisa diberi kesempatan. Banyak orang di luar sana yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan aku.”

“Jadi sebenarnya kau bahagia atau tidak Bocah?” Saint kembali menanyakan.

“Tergantung dari definisi kebahagiaan menurut kamu apa Saint. Kalau Kamu Saint definisi kebahagiaan menurut kamu apa?”

“Hmm malah balik nanya. Dasar kebiasaan. Menurut aku bahagia itu ketika kita bisa berguna untuk orang lain.”

“Kalau kamu Sinner, definisi kebahagiaan menurut kamu apa?”

“Kalau menurut aku Bos, kebahagiaan itu ketika kita bisa makan banyak tanpa perlu takut membayarnya hahahahhaha” Sinner tertawa histeris.

“Dasar cetek.” Bocah itu mentertawakan Sinner dengan definisinya yang seperti itu.

“Kalau kau sendiri Bocah, definisi kebahagiaan menurut kamu apa?”Sinner dan Saint sama-sama bertanya.

Bocah itu terlihat sedang berpikir serius. Lalu dia menjawab

*………………………………………………………………………………………*

 Definisi kebahagiaan tiap orang pasti berbeda-beda. Definisi menurut saya bukan berarti akan menjadi definisi untuk anda. Cari definisimu sendiri dan terus jalani definisimu, sampai suatu saat kita akan sampai di titik kebahagiaan yang seutuhnya.

 

LGBT – Sebuah Pembelajaran

Tulisan ini pernah diunggah di salah satu blog saya yaitu, bimo.blog. Saya pindahkan kesini dalam rangka mengintegrasikan semua tulisan saya ke satu blog agar lebih mudah diurus. Masuk dalam kategori 3S yaitu The Saint, The Sinner and a Student

LGBT – Sebuah Pembelajaran

Sebelum membaca post ini ada baiknya sambil menyeduh kopi atau teh yang bisa membuat nyaman. Post ini adalah opini pribadi saya yang didapatkan dari pengalaman dan pembelajaran. Supaya lebih tenang yuk sambil dengerin lagu ini.

Bocah itu sedang duduk di kursi santainya di ruang tamu rumahnya. Kursi empuk itu selalu sukses membuat siapapun yang duduk diatasnya terjebak dalam kenyamanan haqiqi. Sembari duduk bocah itu melihat timeline twitter di HPnya. Iya, memang hanya twitter satu-satunya media sosial yang bocah itu gunakan sejak setahun lalu. Hatinya sedikit terusik karena di timelinenya banyak orang yang marah-marah terkait adanya pernyataan boikot starbucks oleh salah satu politisi di negaranya.

“Starbucks? Starbucks salah apakah? kopinya terlalu mahal?” pikirnya.

Tweet demi tweet bocah itu scroll. Ujaran-ujaran dari masyarakat yang mengambarkan perbedaan pemikiran antara kalangan masyarakat pun sangat terlihat. Ada warga masyarakat yang mendukung pemboikotan starbucks, ada juga masyarakat yang menanyakan maksud dari pemboikotan starbucks. Bocah ini melihat kedua kelompok ini saling membalas tweet satu sama lain dengan argumennya masing. Tweet-Tweet ini sempat membuat Boikot Starbucks menjadi salah satu trending topic di twitter.

“Wah sampai jadi trending topic, lo ko ada LGBT juga ya?” ucapnya.

Bocah itu pun mengklik LGBT untuk mengetahui apa yang membuatnya LGBT menjadi trending topic juga.

“Ohh, ternyata di Jerman sudah dilegalkan aturan untuk pernikahan sesama jenis. Oalah ternyata alasan kenapa starbucks mau di boikot karena CEOnya terang-terangan mendukung LGBT toh.”

Berdirilah bocah ini dari tempat duduknya yang haqiqi. Dia berjalan ke arah teras depan rumahnya terlihat seperti sedang berpikir sesuatu yang sangat menganggu pikirannya. Dia bergumam,

“perusahaan-perusahaan yang mendukung LGBT sebenarnya ada banyak kan? karena anti diskriminasi, tapi kenapa ya hanya starbucks yang di boikot? dan kenapa sekarang di boikotnya? seandainya sudah dari dulu mendukung LGBT”

Bocah yang kebingungan ini pun memanggil rekan-rekannya, The Saint dan The Sinner.

“Hei Saint, Hei Sin kemarilah, ada yang perlu aku diskusikan dengan kalian”

Dengan cepat kilat rekan-rekannya pun datang ke rumah si bocah. Saint yang datang terlebih dahulu karena kebetulan dia sedang ada di sekitar. Sinner datang terlambat karena tadi dia baru saja tertidur dan tiba-tiba dipanggil sehingga masih ada efek pusing ketika dirinya datang.

“Sinn duduk dulu aja, ini ngopi-ngopi biar engga pusing lagi kamu, dasar jam segini masih tidur” kata si bocah

Sinner pun menjawab sambil menguap “iya maafkan daku bos, semalam begadang nonton pagelaran di balai kota.”

“halah alasan, kalau mau sukses itu bangun pagi lo kaya si Saint. Lihat hidupnya teratur”

“Iya bos siap”

“Bos ada apa ya mengumpulkan kami berdua disini? apa yang mau didiskusikan” ujar Saint dan Sinner

“Jadi begini”

Bocah itu pun mengambil buku catatan berwarna kuning yang sampulnya terbuat dari logam. Tertulis di covernya “CAUTION: DO NOT ENTER”. Peringatan untuk menjauhkan orang lain untuk menyalami jalan pikirnya yang terkadang dirinya sendiri pun tidak bisa mengerti. Bocah itu menarik nafas panjang dan mulai mengatakan apa yang dipikirkannya sejak dirinya melihat twitter tadi. Setengah jam pun berlalu dan Saint dan Sinner hanya mengangguk-ngangguk menandakan mereka mendengarkan dengan serius apa yang dicuapkan bocah itu.

“Jadi, sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan bocah?” Saint membuka pertanyaan

“jadi aku cuma mau menyampaikan unek-unek ku, aku pun sering bertemu dengan mereka yang dianggap minoritas karena merupakan bagian dari pembelajaran di kampus ku. Salah satu prinsip profesiku adalah non-judgemental. Kami tidak boleh menjudge seseorang karena fisiknya atau karena hal lainnya. Mereka sama-sama manusia saint, mereka sama-sama butuh pertolongan.” Ujar bocah berkacamata itu

“iya aku mengerti keinginanmu, memang mereka manusia, tapi mereka banyak menyalahi nilai dan norma di masyarakat, kamu tahu kan?” kata Saint tenang

“iya aku tahu, tapi kan ….” Bocah itu menggaruk kepalanya

Berusaha mencairkan suasana Sinner bertanya kepada bocah itu.

“Bos, kau katanya pernah bertemu mereka, bagaimana memang pengalaman itu?”

Bocah itu memejamkan matanya mencoba mengingat apa yang terjadi waktu itu. Dia mengingat waktu itu dia sedang ada tugas kuliah dan memang diharuskan untuk bertemu dengan mereka. Di suatu pusat perbelanjaan bocah itu dan kelompoknya bertemu salah satu dari mereka. Mereka menanyakan banyak sekali pertanyaan yang sesuai dengan instrumen yang sudah mereka buat sebelumnya. Pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya dengan serius dengan sesekali diselipi bercandaan. Bobo namanya (bukan nama sebenarnya). Dia bercerita dia sudah lama menjadi seorang Gay, dari pengakuannya dia tidak mendapatkannya dari lingkungan karena lingkungannya memperlakukan dirinya sebagai manusia normal. Dia percaya dirinya menjadi seseorang yang oritentasi seksualnya berbeda karena gennya. Bocah ini bercerita dengan semangat meskipun sesekali harus memejamkan matanya untuk mengingat apa yang terjadi waktu itu. Salah satu hal yang paling diingat adalah saat si bocah bertanya,

“kang, seandainya saya punya teman yang orientasi seksualnya berbeda seperti akang, saya harus berbuat apa kang? apa yang harus saya lakukan??” kata bocah itu.

Bobo berkata, “kamu engga harus ngelakuin apa-apa, dengan menganggap mereka tetap manusia biasa dan membantu mereka seperti manusia normal lainnya. Mereka pasti akan sangat-sangat bersyukur. Kami engga pernah meminta untuk diperlakukan khusus, kami engga pernah minta untuk disediakan karpet merah harus dihormati harus dihargai dibanding masyarakat lainnya. Engga, kami engga minta itu. Kami cuma ingin kami dianggap sebagai manusia juga, kami juga punya hak untuk hidup.”

Bocah itu tertegun setelah mendengar itu dari Bobo. Bocah itu tersadar mereka juga manusia dan mereka sama seperti kita membutuhkan pertolongan bukannya malah dicaci maki sehingga mereka malah bergerak underground sehingga tidak bisa diawasi. Bocah itu juga sadar perilaku menyimpang mereka sangat terkait dengan HIV/AIDS yang juga mulai marak di kota ini. Ketika bocah itu bertanya

“Kang, akang kan juga terkena HIV/AIDS, sempat ada pikiran engga sih untuk menularkannya ke orang lain?”

“Wah gatau deh orang lain ketular engga, saya mah sempat frustrasi dulu jadi ya hubungan aja sama orang lain. gatau tuh ketularan apa engga” Bobo menyampaikan sambil melihat kanan kirinya

Ternyata perbuatan kita terus menekan rekan-rekan kita yang minoritas dengan kebencian dan pengisolasian bukanlah solusi terbaik, dengan mengisolasi mereka pengawasan terhadap HIV/AIDS menjadi sulit dilakukan. Virus HIV/AIDS pun jadi lebih sulit untuk dapat diawasi persebarannya. Bocah itu pun semakin empati kepada mereka, sudah dijauhi masyarakat, mendapatkan diskriminasi, rawan lagi terkena penyakit-penyakit seperti ini. Karena penasaran bocah itu bertanya satu pertanyaan terakhir.

“Kang, menurut akang sendiri, perilaku akang ini benar atau salah kang?” Bocah ini terlihat ragu menanyakannya. Nada suaranya berubah tidak seperti pertanyaan sebelum-sebelumnya sepertinya dia takut pertanyaannya salah.

“hahaha tanyanya ga usah takut gitu dong” ujar Bobo.

“Saya tahu kok kalau perbuatan saya ini menyimpang dari nilai dan agama, tapi ya mau gimana lagi. Saya engga mau kaya gini, tapi ya saya jadinya begini. Gimana ya jelasinnya. Hmm. Intinya mah saya tau saya salah tapi ini juga kebutuhan saya.” Ujarnya sambil menghela nafas panjang dan menyenderkan badannya ke kursi.

“Jadi begitu ceritanya Sin pertemuan aku dengan akang itu banyak mengubah pandangan aku, menurut kalian bagaimana?” Bocah itu mengembalikan pikirannya ke masa ini.

Saint dan Sinner dengan serius mendengarkan cerita Bocah itu dari awal sampai akhir. Saint dan Sinner menaikan tangan ke dagu mereka seperti sedang mencoba menelaah apa yang sudah dikatakan bocah itu. Saint lah yang pertama kali berujar. Saint berkata

“Menurut aku dia salah wahai bocah. Perbuatannya sudah menyalahi aturan baik nilai dan norma di masyarakat juga aturan dari agama. Dilihat dari kodrat manusia untuk memiliki keturunan pun dirinya juga sudah tidak pantas. Kalau sesama jenis bagaimana seorang manusia bisa melanjutkan keturunan? bagaimana kalau nanti umat manusia ini lama kelamaan punah? Dalam cerita pun kaum sodom di azab oleh Allah SWT dikarenakan mereka berbuat demikian. Jadi menurut aku perbuatannya salah.”

Bocah itu mengangguk mengerti. Setelah itu Sinner lah yang menyampaikan pendapatnya.

“Hai bocah. Kalau si Saint itu bilang dia salah. Aku bilang dia tidak sepenuhnya salah. Tidak ada orang yang mau lahir seperti itu.  Manusia kan diciptakan untuk berpasangan. Kata dia juga itu kebutuhan dia dan beruntung dia sudah mau terbuka untuk status HIV/AIDSnya sehingga bisa membantu yang lain dan kita juga bisa mengawasi. Kalau kata aku sih kalau memang dia dilahirkan seperti itu, kita bisa apa?”

Bocah itu juga mengangguk menandakan mengerti. Bocah itu pun berterima kasih kepada kedua rekannya Saint dan Sinner karena sudah menemani dan mendengarkan ceritanya. Dia pun menyampaikan sesuatu kepada Saint dan Sinner.

“Aku tidak tahu mereka benar atau salah karena aku tidak punya hak untuk menjudge mereka. Yang aku tahu aku akan membantu semua manusia ketika mereka memerlukan pertolongan aku, tidak peduli apa ras, agama, umur, suku, orientasi seksual dan hal lainnya. Bagiku semua manusia itu sama yang membedakan apakah dirinya mau bermanfaat bagi orang lain atau tidak.” Bocah itu menutup obrolan siang menjelang sore itu.

the saint, the sinner and a student – awal

Tulisan ini pernah diunggah di salah satu blog saya yaitu, bimo.blog. Saya pindahkan kesini dalam rangka mengintegrasikan semua tulisan saya ke satu blog agar lebih mudah diurus.

the saint, the sinner and a student – awal

apa jadinya ketika seseorang berbicara, ada 3 pendapat yang juga ikut menyampaikan? ada dirinya sendiri sebagai seorang individu, ada yang berpendapat sesuai norma dan nilai di masyarakat sehingga dianggap suci dan yang terakhir adalah si pendosa yang berpendapat seenak udelnya tanpa memperhatikan norma dan perasaan orang lain.

tiga sisi

doc. pribadi

Mendengar

pada suatu waktu di abad ke 21. Bertempat di negara dunia ketiga yang biasa orang sebut Indonesia, atau yang para turis sebut Bali. (you heard it right, di beberapa forum online luar banyak orang lebih tahu Bali daripada Indonesia). Ada seorang anak remaja beranjak dewasa berumur 19 Tahun yang akan bertambah di bulan Agustus. Oh iya dia juga mengenakan kacamata -5. Dia memiliki passion menulis (meskipun tulisannya tidak bagus), dia juga berharap passionnya ini nanti bisa mnghidupinya (meskipun masih belum paham bagaimana caranya). A boy who have a dream.

Hari demi hari berganti, bocah ini tetap saja menulis di berbagai kesempatan. Terkadang di kamar kostnya yang berukuran 3×3 m2 yang beradi lantai 3 sebuah rumah yang antar tetangga kamar tidak saling kenal atau terlalu canggung untuk mengenal satu dengan yang lainnya. Tangga gedung auditorium kampusnya yang selalu dilewati orang dengan bergegas entah karena terburu-buru mengejar kuliah atau terburu-buru mengejar jodoh yang tak didapat juga menjadi salah satu tempat favoritnya untuk menulis. Jari-jari gemuk seakan menari bebas di atas keyboard laptop mungilnya. “ctak ctak ctak” dengan sigap tombol enter di laptopnya di tekan seakan itu adalah penentu hidup dan matinya.

Bahan tulisannya pun sudah siap tinggal memilih opsi publish, maka tulisannya akan bisa di upload dan langsung terpampang di blog kesayangannya. “saya publish atau engga ya?” ujar bocah itu. Dia terlihat kebingungan menentukan apakah tulisannya layak di publish atau tidak. “sepertinya tulisan ini engga layak tayang, hmm” pikirnya. Berbagai macam alasan dicarinya demi mendukungnya untuk tidak mem-publish tulisannya. Para mahasiswa yang lalu lalang di sampingnya pun semakin membuatnya panik dan akward karena dia memang tidak terlalu senang berada di tempat yang ada banyak orang. Dilema menulis menjadi salah satu alasannya kenapa tulisannya tidak di publish. Dia takut tulisannya tidak diterima orang lain, dia takut opininya malah menyulitkan dirinya sendiri. Sudah banyak kasus individu yang di bully dikarenakan opini mereka.

Ditelusurinya situs-situs berita online dengan keyword “netizen”. Dibukanya twitter dan langsung terpampang orang-orang yang berdebat karena tidak setuju dengan opini orang lain. Kekhawatirannya semakin memuncak ketika dirinya mendengar dan melihat ada aksi masa besar-besaran karena tidak adanya kepahaman akan opini seseorang. Bocah itu kemudia menutup laptop dan kembali beranjak yang hanya dirinya tahu akan kemana.

Dilema

Dilema itu yang juga terpikir oleh saya. Saya takut menulis karena takut opini saya akan direndahkan orang, akan diragukan orang, akan di protes orang. Ketakutan ini membuat banyak draft tulisan saya yang hanya menjadi draft di blog saya. Ketakutan itu juga yang membuat saya terus memikirkan slogan-slogan “Free Speech”. Semakin saya menulis dan semakin saya membaca, saya sampai di satu kesimpulan.

bebas menyampaikan pendapat, bukan berarti bebas dari konsekuensi pendapat anda

Dengan pengertian diatas maka saya juga memiliki kesimpulan bodoh lainnya. Bagaimana jadinya dalam saya menulis, saya akan menyampaikannya melalui tiga sudut pandang. Semua sudut pandang akan disangkutkan. Saya akan coba memahami pendapat dari semuanya.

Dalam membantu dalam ide ini, saya tidak sendiri. Saya akan dibantu oleh The Saint, The Sinner, and a Student.

ilustrasi artistik

Ketiga orang ini akan membantu saya dalam menulis kedepannya.

The Saint, akan membantu beropini dalam berbagai hal yang sesuai dengan norma di Masyarakat. Tidak ada kesalahan dari si “Saint” ini. Dia adalah seseorang yang sangat bijak selalu menyikapi sesuatu dengan kepala dingin. Tiap dirinya berkata terdengar alunan gamelan jawa dan angin sepoi-sepoi di telinga yang mendengarkannya.

berbeda dengan saudaranya yaitu,

The Sinner, dia adalah seseorang yang sangat ambisius. Dia tidak peduli norma dan nilai di masyarakat. Dia hanya ingin untuk menyampaikan pendapatnya sesuai dengan apa yang dipikirkannya, apa yang membuat dia marah akan menambah semangatnya untuk berkomentar dengan menekan tombol enter sekencang-kencangnya seperti sedang main ayo dance. Dia suka membuat suasana menjadi panas, dia senang apabila ada seseorang yang terpancing untuk mendebatnya.

dan yang terakhir adalah

a student, seorang siswa 19 tahun berkacamata. Dirinya masih bingung apa yang harus dikomentarinya. Dia masih takut untuk berpendapat, tapi dirinya akan belajar sesuai berjalannya waktu. Dia juga akan banyak belajar dari The Saint dan The Sinner. Dirinya akan berpendapat apa yang menurutnya benar meskipun pendapatnya sering anti-mainstream.

 

Meskipun

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir dari tulisan seseorang bisa menjadi terkenal atau viral. Tulisan juga bisa membuat seseorang menjadi terpuruk masuk penjara. Ingat kata kunci tadi

Bebas berpendapat bukan berarti bebas dari konsekuensi pendapat anda

Tapi, saya suka suasana seperti ini. Saya suka orang-orang tidak takut mengutarakan pendapatnya. Saya suka mereka menyerukan dan mempertahankan apa yang menurut mereka benar. Masa ini adalah masa emas dalam kebebasan berpendapat, begitu banyak tulisan-tulisan yang menyejukan masyarakat, tapi banyak juga tulisannya yang membuat suasana panas. Ayo kita teruskan, tapi jangan lupa membuat tulisan juga harus berdasarkan data. Dengan begitu budaya literasi di Indonesia juga akan meningkat. Masyarakat akan berlomba-lomba untuk membaca mencari data yang akan membantu mendukung pendapatnya. Apabila tidak, mungkin anda adalah rekan dari The Sinner hahahahaha.

Let’s heat up the scene, writing has never been so much fun